SUMEDANG BANGKIT

SUMEDANG BANGKIT
Tim Pelajar 2013

Senin, 23 Februari 2015

TAHAP PERTAMA, LALU???

Setelah sekian lama tertidur kegiatan tenis meja di kabupaten Sumedang untuk anak-anak kini mulai bangkit kembali. Keadaan tersebut bisa dilihat dari munculnya beberapa kejuaraan tingkat kabupaten, dahulu yang hanya ada kejuaraan resmi yang di selenggarakan pihak pemerintah kini kejuaraa untuk anak-anak selalu diminati oleh para pengurus tingka PTM yang ada di bebrbagai wilayah bagian Sumedang.
Sebut saja Buahdua sebagai basis yang sangat giat menelukan bakabakat tenis meja di tingkat pemula yang di komandoi oleh Pelatih Mas Badho. Buahdua hampir selalu menjadi penyumbang terbanyak pada setiap kegiatan tenis meja, dan juga hampir selalu ada juara yang muncul di kelas pemula. Selain itu PTM Cut Nyak Dien yang berada di dearah kota berhasil membuat persaingan di pemula sangat meriah, di tambah juga dari daerah Rancakalong yang belakangan mulai menurun angka partisipasinya dalam kejuaraan yang ada di Kabupaten Sumedang, namun tetap memberikan warna  bagi perkembangan tenis meja yang ada di Sumedang.
PTM Cortesa yang menjadi basis atlet-atlet top sumedang di usia kadet sampai senior masih terjaga eksistensinya walau sekarang pelatih Edi Kurniadi atau yang sering disapa Bos Endut itu mulai membuka kebijakan untuk memberikan kesempatan anak asuhnya untuk masuk PTM ataupun PPLP yang mempunyai dana yang lebih besar. Sebagaimana pengalaman yang sudah dijalani pelatih yang sudah mengabdikan dirinya kepada tenis meja sejak usia remaja ini bahwa "Keerhasilan pelatih pada jaman sekarang sangat di tunjang gelontoran dana, jadi kalau dana minim ya kita akan stagnan dalam pembinaan", keluhnya . Memang jaman sekarang bukan lagi jaman perjuangan seperti tahun sebelum 45, dimana di butuhkan pengabdian yang sangat ekstra keras untuk membangun daerah dan juga bangsa ini karena dahulu memang semuanya susah. Tapi bandingkan dengan sekarang, Pelatih dan Atlet sudah berjuang bahkan berkorban waktu dan tenaga untuk membela panji daerah dan daerah terlihat oleh daerah lain bahkan provinsi lain. Tapi apa yang kita dapat? kita gagal kita jadi sorakan banyak pihak, gunjingan dan bahkan masalah seakan di besarkan dikala kita mau bangkit. Terus saat setelah berhasil semua berebut pamor untuk nempang tenar setalah tidak ada kegiatan ya tidak ada lagi yang peduli sama kondisi atlet dan pelatih di Sumedang.
Kepeutusan Pelatih EK ini sempat menjadi perdebatan banya pihak, setelah melepas Anggi ke Jakarta dan juga Erwin, Wiwit dan Baby yang juga ikut membela daerah lain bahkan sukses mendapatkan medali di luar daerah membuat pengurus di Sumedang kalang kabut dan kecewa. Namun setelah di tanya kapan Sumedang punya GOR Tenis Meja Sendiri? kapan pembinaan kita tingkatkan ke tahap profesional? Semuanya DIAM. Jawaban itu tidak ada yang ada ketika event 4 tahunan di tanya "Dapat Medali Apa?" 
Saya rasa Pelatih dan Atlet sudah berjuang bahkan sudah berkorban demi daerah ini, mungkin sekarang mereka ada pada titik jenuh untuk mengembangkan prestasi lagi dan berjalan seadanya! Tapi Sumedang punya potensi, pemain pemula sekarang muncul dan banyak pelatih PTM mulai berkembang, namun apa target selanjutnya?

#ALANGKAH BAIKNYA SEMUANYA BERUNDING SECARA BERKELANJUTAN DAN KITA CARI SPONSOR SAMA-SAMA 

Selasa, 03 Februari 2015

HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN REAKSI DAN FLEKSIBILITAS PERGELANGAN TANGAN DENGAN HASIL SERVICE FOREHAND SIDESPIN PADA PERMAINAN TENIS MEJA

Dosen Pembimbing   : Dr. Hj. Nina Sutresna, M.Pd
                                                     Drs. Dadan Mulyana, M.Pd


Hendra Gunawan
2013

Latar belakang yang menjadi acuan penulis dalam penelitian ini adalah pentingnya unsur-unsur kondisi fisik dalam olahraga tenis meja antara lain unsur kecepatan reaksi dan fleksibilitas pergelangan tangan dengan hasil service forehand sidespin pada permainan tenis meja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah anggota UKM Tenis Meja UPI Bandung sebanyak 20 orang. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: 1) Terdapat korelasi antara kecepatan reaksi dengan hasil service forehand sidespin pada cabang olahraga tenis meja. 2) Terdapat korelasi antara fleksibilitas pergelangan tangan dengan hasil service forehand sidespin pada cabang olahraga tenis meja. 3) Terdapat korelasi antara kecepatan reaksi dan fleksibilitas pergelangan tangan secara bersama-sama dengan hasil service forehand sidespin pada cabang olahraga tenis meja. Mengacu pada hasil penelitian, disarankan agar pembina dan pelatih hendaknya memperhatikan komponen-komponen kondisi fisik yang memberikan dukungan terhadap kemampuan menguasai teknik dasar, salah satunya service forehand sidespin. Dalam hal ini kondisi fisik yang dimaksud adalah kecepatan reaksi dan fleksibilitas pergelangan tangan.


*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Angkatan 2008

Rabu, 14 Januari 2015

Program Pembinaan Tenis Meja Kabupaten Sumedang Tahun 2015

Tenis meja Sumedang kini sudah mulai bangkit. dengan adanya rapat pada awal tahun 2015 ini kami berbenah dengan merancang beberapa program kegiatan untuk meningkatkan kembali prestasi tenis meja kabupaten Sumedang. Ketua dari berbagai PTM yang ada di Sumedang berkumpul dalam agenda awal tahun 2015 ini, tema tahun 2015 ini adalah SUMEDANG BANGKIT


Kami memnyadari dengan SDM dan keadaan sarana dan prasarana yang ada di Sumedang membuat persaingan ditingkat profesional sangat berat, namun itu tidak akan menjaddi alasan buat tenis meja sumedang untuk tidak berkontribusi dalam pembinaan tenis meja di Jawa barat bahkan di Indonesia. Hal ini hasil dari evaluasi dari pembangunan PTMSI Sumedang awal tahun 2000an di bawah asuhan pelatih Edi Kurniadi. Setelah 15 tahun berlalu terjadi pasng surut prestasi di kabupaten Sumedang. atlet yang bermunculan telah mengharumkan nama Sumedang dalam cabang olahraga tenis meja, atlet seperti Ryan Prahasta, Nana Rusmana, Sudjana, Yanto dan Jaka menjadi awal perjalanan pelatih Edi Kurniadi pada tahun 2000an yang bertempat di PTM Cortesa. ada secercah harapan pada tahun 2003 ketika nama atlet pemula mulai muncul dan mampu bersaing di tingkat Provinsi pada saat itu pa edi berhasil membawa nama Sandi Setiawan berpasangan dengan Ivan Hanafiah Berhasil menjuarai PORSENIDA SD tingakta Jawa Barat 2003. atmosfer juara terus berkembang dibawah asuhan Edi Kurniadi dengan atlet Pemula, Kadet dan Junior. Nama Seperti Adi, Ari, Lelih, Irvan, Ganjar, Anggi, Temi, Wulan, Dede, Elis, Fatiah terus membawa nama Sumedang untuk terus bersaing di tingkat Provinsi bahkan Nasional. sampai tahun 2010an. Hingga Terjadi puncak prestasi antara tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 dimana Sandi Setiawan mampu menjuarai Mix Double O2SN tingkat Provinsi tingkat SMA. di Atlet putri pun tidak ketinggalan tiga pemaoin andalan terbaik diciptakan oleh Erwin Dwi Meilinda, Baby Stephani Kasenda, dan juga Wiwit Witriami yang menjadi Runner up POPDA tahun 2011.


Namun setelah masa kejayaan itu ada kebimbangan yang dirasakna oleh pelatih Edi Kurniadi bahwa Sumedang belum mampu bnersaing ditingkat profesonal seperti PORDA. Hal ini membuat pembinaan prestasi tenis meja Sumedang di pandang sebelah mata oleh KONI Sumedang. Dan atlet andalan pun muali mencari jembatamn untuk terus berkarir serta mendapat perhatian modal untuk terus berprestasi. Di mulai dengan pindahnya Anggi Ginanjar ke PTM Ancol Barat Jakarta, kemudian Wiwit pindah ke PPLP DKI JAKARTA dan disusul oleh temanya Erwin.

Sekarang Prestasi Sumedang sangat sulit berkembang setelah di tinggal beberapa atlet andalanya karena rantai dan roda pembinaanya hilang satu tingkat. bahkan bisa dikatakan kami harus kembali memulai dari awal lagi untuk terus membina dan kembali menularkan bibit-bibit unggul dalam prestasi cabng olahraga tenis meja


Namun di awal tahun 2015 kami bersatu dan siap untuk melakukan semua itu dengan semangat dan perjuangan yang baru kami bersatu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program pembinaan prestasi cabnag olahraga tenis meja Sumedang. SUMEDANG BANKIT

Kamis, 21 Agustus 2014

KORELASI KECERDASAN EMOSIONAL DAN DAYA TAHAN AEROBIK DENGAN PRESTASI ATLET CABANG OLAHRAGA TENIS MEJA

Sandi Setiawan*
2014

Latar belakang yang menjadi acuan penulis dalam penelitian ini adalah pentingnya aspek mental dan kondisi fisik dalam olahraga tenis meja antara lain kecerdasan emosional dan kemampuan daya tahan aerobik dengan prestasi atlet cabang olahraga tenis meja. Masalah penelitian adalah apakah terdapat korelasi antara kecerdasan emosional dan daya tahan aerobik secara bersama-sama dengan prestasi atlet cabang olahraga tenis meja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah atlet pelajar kabupaten Sumedang sebanyak 10 orang. Instrumen penelitian adalah : 1) Skala kecerdasan emosional. 2) Bleep test. 3) Sistem setengah kompetisi. Hasil penelitian sebagai berikut: 1) Terdapat korelasi antara kecerdasan emosional dengan prestasi atlet cabang olahraga tenis meja. 2) Terdapat korelasi antara daya tahan aerobik dengan prestasi atlet cabang olahraga tenis meja. 3) Terdapat korelasi antara kecerdasan emosional dan daya tahan aerobik secara bersama-sama dengan prestasi atlet cabang olahraga tenis meja. Mengacu pada hasil penelitian, disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara kecerdasan emosional dan daya tahan aerobik secara bersama-sama dengan prestasi cabang olahraga tenis meja, disarankan agar pembina dan pelatih hendaknya memperhatikan komponen-komponen aspek mental dan kondisi fisik yang memberikan dukungan terhadap prestasi atlet cabang olahraga tenis meja. Dalam hal ini aspek mental yang dimaksud adalah kecerdasan emosional dan kondisi fisik yang dimaksud adalah daya tahan aerobik.





*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Angkatan 2010

Selasa, 01 Oktober 2013

Olahraga untuk meningkatkan Kecerdasan??? Ternyata Bisa broo

Wow, ternyata olahraga dapat meningkatkan kecerdasan loooh! Menurut ahli kebugaran, jika Anda berpikir otot hanya untuk penggemar olahraga, pikirkan lagi! Penelitian terbaru di University Of Texas di Amerika Serikat mengatakan bahwa berolahraga 30 menit sehari bisa mengubah Anda menjadi seseorang yang lebih pintar. Dari penelitian yang dilakukan terhadap 1100 mahasiswa, para siswa yang mendapat nilai A paling sedikit melakukan olahraga selama 30 menit sedangkan para mahasiswa yang mendapatkan nilai C,D, atau F melakukan olahraga tidak selama mahasiswa yang mendapat nilai A.
Ahli kebugaran Althea Shah mengatakan bahwa “latihan meningkatkan suasana hati Anda. Olahraga bekerja sebagai antidepresi dan dengan demikian dapat membantu dalam mengangkat suasana hati Anda langsung. Selain itu, juga membantu Anda untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang Anda lakukan setiap hari. Jadi, berolahraga setiap hari dapat benar-benar membuat Anda lebih pintar dan lebih percaya diri tentang diri Anda.” Jadi, bagaimana olahraga bisa membuat Anda lebih cerdas? Berikut beberapa alasan yang dilansir oleh idiva.
  • Olahraga dapat menambah energi
Ketika Anda lebih sering bergerak, Anda akan merasa semakin berenergi. Walaupun bila dilakukan terlalu lama dan terlalu banyak, olahraga bisa membuat Anda merasa pusing dan lelah. Tapi melakukannya secara rutin dapat meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan kekebalan tubuh Anda. Olahraga juga dapat menambah energi dan membuat Anda dapat berpikir lebih jernih dan muncul dengan ide-ide baru. Jika Anda melakukan olahraga sekitar 15 menit setiap harinya secara rutin, itu akan membuat tubuh Anda memproduksi lebih banyak energi.
  • Olahraga bisa meningkatkan fokus
Melakukan latihan dapat meningkatkan fokus yang membuat kerja otak meningkat dalam jangka  pendek. Dalam jangka panjang, olahraga dapat membantu Anda untuk memperlambat penuaan dan mengurangi resiko penyakit Alzheimer. Ini bekerja pada tingkat sel dalam sistem Anda. Otak membaik dengan memompa darah dalam tubuh Anda, yang terjadi ketika Anda berolahraga.
  • Olahraga dapat membuat suasana hati lebih baik
Berolahraga dapat memicu endorfin, yang meningkatkan fungsi otak Anda dan membuat suasana hati lebih baik. Memungkinkan Anda untuk memblokir gangguan dalam hidup dan juga lebih berkonsentrasi pada pekerjaan dan aktivitas Anda.
  • Olahraga dapat meningkatkan memori
Meningkatkan memori dapat dilakukan dengan rajin melakukan olah raga. Hal ini terbukti dengan beberapa percobaan yang dilakukan dan diterbitkan dalam jurnal, dari percobaan tersebut terbukti dengan beberapa siswa yang diminta untuk menghafal sambil melakukan latihan. Hasilnya terbukti bahwa siswa yang hanya melakukan hafalan dengan berdiam diri, jawabannya kurang akurat.
  • Olahraga bisa membuat produktivitas meningkat
Saat Anda produktif dan efisien, Anda terikat untuk berhasil. Hal ini juga mengatakan bahwa pekerja yang berolahraga setelah tengah hari antara jam kerja, cenderung untuk berkontribusi lebih dari apa yang orang lain lakukan. Mereka juga lebih produktif di tempat kerja.
Dengan berolahraga dapat membuat Anda ternyata tidak hanya membuat Anda lebih bugar dan sehat, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan. Bukankah ini membuat Anda lebih bersemangat untuk melakukan olahraga? Bahkan di tempat kerja pun Anda bisa melakukannya, dengan melakukan yoga pose di kantor yang memang pose-pose nya disesuaikan untuk pose Anda di kantor. Yuk, jadwalkan waktu Anda untuk berolahraga.
SHARE KE TEMAN dan KELURGA ANDDAA BIAR KITA SEMUA SEHAT DAN CERDAS

Selasa, 17 September 2013

PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA

Cedera Olah Raga
Cedera pada Otot atau Tendo dan Ligamen
Pengertian :
Menurut Depdiknas (1999: 632) “otot merupakan urat yang keras atau jaringan kenyal dalam tubuh yang fungsinya untuk menggerakkan organ tubuh”.
Pengertian tendo menurut Hardianto Wibowo (1995: 5) adalah jaringan ikat yang paling kuat (ulet) berwarna keputih-putihan, bentuknya bulat seperti tali yang memanjang. Adapun strain dan sprain yang mungkin terjadi dalam cabang olahraga renang yaitu punggung, dada, pinggang, bahu, tangan, lutut, siku, pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
Cedera Olah Raga adalah cedera pada sistem otot dan rangka tubuh yang disebabkan oleh kegiatan olah raga. Cedera olah raga merupakan suatu kejadian yang sangat ditakuti oleh pelatih dan atlet, cedera dapat terjadi akibat trauma akut atau trauma yang terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu lama.
Faktor-faktor yang meningkatkan resiko cidera olah raga :
Metode Latihan Yang Tidak Tepat
Hal ini  merupakan penyebab paling sering dari cedera pada otot dan sendi. Penderita tidak memberikan waktu pemulihan yang cukup setelah melakukan olah raga atau tidak berhenti berlatih ketika timbul nyeri.
Beberapa otot mengalami cedera setiap kali mengalami penekanan oleh aktivitas yang intensif, dan otot yang lainnya menggunakan cadangan energinya. Penyembuhan serat-serat otot dan penggantian energi yang telah digunakan  memerlukan waktu pemulihan hingga berhari-hari.
Sebaiknya latihan olah raga dilaksanakan  secara bergantian, misalnya hari ini melakukan latihan berat, hari berikutnya beristirahat atau melakukan latihan ringan.
Kelainan Bentuk Anatomi Tubuh
Kelainan bentuk anatomi tubuh bisa menyebabkan seseorang lebih peka terhadap cedera olah raga karena adanya tekanan yang tidak semestinya pada bagian tubuh tertentu. Misalnya, jika panjang kedua tungkai tidak sama, maka pinggul dan lutut pada tungkai yang lebih panjang akan mendapatkan tekanan yang lebih besar  sehingga meningkatkan resiko terjadinya retakan kecil dalam tulang kaki dan tungkai (fraktur karena tekanan).
Kelemahan Otot, Tendon & Ligamen.
Jika mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada kekuatan alaminya, maka otot, tendon dan ligamen akan mengalami robekan. Sendi lebih peka terhadap cedera jika otot dan ligamen yang menyokongnya lemah. Tulang yang rapuh karena osteoporosis mudah mengalami patah tulang (fraktkur).
Menurut Hardianto Wibowo (1995: 22) ada dua jenis cedera pada otot atau tendo dan ligamentum, yaitu
1. Sprain
Menurut Sadoso (1995: 11-14) “sprain adalah cedera pada ligamentum, cedera ini yang paling sering terjadi pada berbagai cabang olahraga.” Giam & Teh (1993: 92) berpendapat bahwa sprain adalah cedera pada sendi, dengan terjadinya robekan pada ligamentum, hal ini terjadi karena stress berlebihan yang mendadak atau penggunaan berlebihan yang berulang-ulang dari sendi.
Berdasarkan berat ringannya cedera Giam & Teh (1992: 195) membagi sprain menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a) Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit
Berdasarkan berat ringannya cedera Giam & Teh (1992: 195) membagi sprain menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a) Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapa serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkatan dan rasa sakit pada daerah tersebut.
b) Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendian tersebut.
c) Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh
b) Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendian tersebut.
c) Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah. Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakan-gerakan yang abnormal.
2. Strain
Menurut Giam & Teh (1992: 93) “strain adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo karena penggunaan yang berlebihan ataupun stress yang berlebihan.” Berdasarkan berat ringannya cedera (Sadoso, 1995: 15), strain dibedakan menjadi 3 tingkatan, yaitu:
a) Strain Tingkat I
Pada strain tingkat I, terjadi regangan yang hebat, tetapi belum sampai terjadi robekan pada jaringan muscula tendineus.
b) Strain Tingkat II
Pada strain tingkat II, terdapat robekan pada unit musculo tendineus. Tahap ini menimbulkan rasa nyeri dan sakit sehingga kekuatan berkurang.
c) Strain Tingkat III
Pada strain tingkat III, terjadi robekan total pada unit musculo tendineus. Biasanya hal ini membutuhkan tindakan pembedahan, kalau diagnosis dapat ditetapkan.
Menurut Hardianto Wibowo (1995: 16) penanganan yang dilakukan pada cedera tendo dan ligamentum adalah dengan diistirahatkan dan diberi pertolongan dengan metode RICE. Artinya:
R (Rest) : diistirahatkan pada bagian yang cedera.
I (Ice) : didinginkan selama 15 sampai 30 menit.
C (Compress) : dibalut tekan pada bagian yang cedera dengan bahan yang elastis, balut tekan di berikan apabila terjadi pendarahan atau pembengkakan.
E (Elevate) : ditinggikan atau dinaikan pada bagian yang
cedera.
Perawatan yang dapat dilakukan oleh pelatih, tim medis atau lifeguard menurut Hardianto wibowo (1995:26) adalah sebagai berikut:
(a) Sprain/strain tingkat satu (first degree)
Tidak perlu pertolongan/ pengobatan, cedera pada tingkat ini cukut diberikan
cedera.
Perawatan yang dapat dilakukan oleh pelatih, tim medis atau lifeguard menurut Hardianto wibowo (1995:26) adalah sebagai berikut:
(a) Sprain/strain tingkat satu (first degree)
Tidak perlu pertolongan/ pengobatan, cedera pada tingkat ini cukut diberikan istirahat saja karena akan sembuh dengan sendirinya.
(b) Sprain/strain tingkat dua (Second degree).
Kita harus memberi pertolongan dengan metode RICE. Disamping itu kita harus memberikan tindakan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun
(b) Sprain/strain tingkat dua (Second degree).
Kita harus memberi pertolongan dengan metode RICE. Disamping itu kita harus memberikan tindakan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs. Biasanya istirahat selama 3-6 minggu.
(c) Sprain/strain tingkat tiga (Third degree).
Kita tetap melakukan metode RICE, sesuai dengan urutanya kemudian dikirim kerumah sakit untuk dijahit/ disambung kembali.
(c) Sprain/strain tingkat tiga (Third degree).
Kita tetap melakukan metode RICE, sesuai dengan urutanya kemudian dikirim kerumah sakit untuk dijahit/ disambung kembali.
Cedera pada bahu merupakan salah satu cedera yang paling sering dialami pada saat berolahraga, selain lutut dan pergelangan kaki. Namun, meskipun cedera pada sendi bahu merupakan hal yang umum, namun sebaiknya Anda tidak meremehkannya. Nyeri yang berkepanjangan malah akan membuat fungsi tubuh Anda terganggu. Untuk itu, ketika Anda mengalami cedera pada sendi bahu Anda, segera atasi secara tepat.
Apa Yang Terjadi Ketika Anda Mengalami Cedera Bahu?
Sendi bahu merupakan bagian yang sangat tidak stabil. Dan di sendi bahu, tendon yang sangat berperan adalah rotator cuff dan biceps. Beberapa cedera sendi bahu yang paling sering terjadi, antara lain subacromial bursitis, supraspinatus tendinitis, long head biceps tendinitis, rotator cuff tendonitis hingga sobekan rotator cuff (rotator cuff tear). Gejala dan tanda klinis yang dialami bervariasi, mulai dari ringan sampai berat. Cedera tersebut dapat mengakibatkan nyeri sendi yang sangat pada saat bergerak maupun istirahat. Di antara beberapa jenis cedera tersebut, kali ini kita akan membahas salah satunya, yaitu shoulder tendonisitis atau rotator cuff tendonitis.
Apa Itu Shoulder Tendonitis atau Rotator Cuff Tendonitis?
Shoulder tendonitis (atau rotator cuff tendonitis) adalah salah satu kondisi paling umum terjadi pada persendian bahu (rotator cuff). Penting untuk diketahui bahwa shoulder tendonitis hanya bagian dari masalah dan mengarah ke shoulder bursitis. Faktor umum penyebab rotator cuff tendonitis adalah olahraga. Tetapi terkadang gangguan ini juga bisa terjadi pada orang-orang di atas usia 40 tahun.
Rotator cuff tendonitis juga dikenal sebagai Swimmer’s shoulder, Pitcher’s shoulder, Shoulder impingement syndrome, Tennis shoulder atau Shoulder Bursitis. Rotator cuff tendonitis adalah suatu peradangan (iritasi dan pembengkakan) pada tendon bahu. Biasanya efek pelemahan pada bahu hanya terasa ringan sampai sedang.
Bagaimana Mengatasinya?
Secara umum, pemulihan cedera pada sendi bahu memerlukan waktu. Untuk mempercepat waktu pemulihan agar Anda dapat berlatih kembali, gunakan formula RICE (Rest atau istirahat; Ice atau kompres dengan es; Compression atau beri tekanan dengan menggunakan membalutnya dengan perban khusus; dan Elevation atau tinggikan bagian yang mengalami cedera). Penyembuhan jaringan lunak, seperti bahu, seringkali membutuhkan waktu antara 4 hingga 6 minggu.
Sedangkan perawatan untuk cedera rotator cuff dapat meliputi: istirahat, pengobatan anti peradangan, latihan kekuatan, terapi ultrasound, injeksi corticosteroid atau operasi (untuk cedera berat). Ada beberapa jenis latihan tertentu untuk membantu Anda memperkuat otot-otot di bahu Anda (terutama otot-otot rotator cuff, bagian yang membantu dalam gerakan bahu melingkar). Latihan-latihan ini tidak menyebabkan rasa sakit. Jika terasa sakit saat latihan, hentikan, periksakan ke dokter Anda, kemudian mulai kembali berlatih dengan beban yang lebih ringan.
Setelah mengetahui pentingnya untuk segera mengatasi cedera bahu Anda, maka jika Anda mengalami cedera pada sendi bahu, segera atasi dengan cepat dan tepat, agar Anda bisa segera kembali ke gym. Selamat berlatih dengan aman!

Selasa, 03 September 2013

APA TARGET ANDA????

                Target merupakan hal yang sangat penting dalam pembinaan atlet, sejauh apa target yang diterapkan sebuah organisasi atau klub maka sejauh mana usaha yang harus dilakukan klub atau organisasi tersebut. Dengan demikian target mempunyai peranan  yang sangat peting dalam menentukan hasil pertandingan!!!! Yang keliru di negeri ini target itu di jadikan acuan semata untuk sejauh mana biaya yang dikeluarkan., tanpa melihat dan mau tahu apa yang sudah dilakukan pelatih dan atletnya. Padahal selayaknya atlet dan pelatih diberi target dengan melihat dari mana mulai dia latihan dan sampai mana dia mampu berlatih guna menunjang perfirma dia saat bertanding.
                Salah siapa??? Jangan tanya salah siapa tapi mari kita evaluasi sistem manajemen organisasi atau pun klub olahraga di negeri kita tercinta ini. Mari kita bangun PELATIH yang memiliki wawasan yang luas dengan ilmu kepelatihanya, ATLET yang mempunyai semangat juang yang tinggi demi mengharumkan bangsa dan negara, dan wujudkan melalui program latihan yang jelas. Dan yang paling penting manajemen organisasi juga harus banyak melakukan evaluasi guna apa yang dilakukan pelatih dan atletnya bisa berjalan seimbang antara hak dan kewajiban.

                Karena olahraga Indonesia mempunyai prospek yang sangat baik.